
Jakarta, mediakorannusantara – Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri Komjen Pol. Karyoto memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) saat ini aman di tengah gejolak kenaikan harga dan nilai tukar rupiah yang melemah pada Jumat, 15 Mei 2026.
“Saat ini aktivitas masyarakat berjalan normal seperti biasa,” kata Karyoto di Jakarta, Jumat.
Karyoto mengatakan bahwa warga, termasuk pers bisa melihat sendiri bagaimana kehidupan sehari-hari warga saat ini dan terbukti di jalan raya, mal dan pasar masih seperti biasa.
“Tidak ada ketakutan dan lain-lain. Berarti Indonesia masih aman, Insyaallah,” katanya.
Menurut Karyoto, dampak konflik global memang mengakibatkan harga BBM naik, tetapi hal tersebut terjadi untuk BBM nonsubsidi, sementara itu pemerintah masih memberikan subsidi untuk BBM yang dikonsumsi masyarakat.
Kondisi ini membuat masyarakat kelas menengah atas mengeluarkan biaya ekstra karena harga BBM nonsubsidi naik lebih tinggi dari biasanya.
Kondisi tersebut diatasi lewat kebijakan bekerja dari mana saja atau work from anywhere (WFA) sekali dalam seminggu.
“WFA itu dengan tujuan ada penghematan. Yang seharusnya ke kantor, dia bisa dari rumah bekerja. Untuk hal-hal yang sifatnya harus dikerjakan berkaitan dengan tugas pokoknya bagi ASN,” ujarnya.
Menurut Karyoto, kebijakan WFA sekali dalam seminggu itu dapat ditiru oleh swasta selama tidak mengganggu produktivitas.
“Kalau yang jelas seperti kami (Polri) ada imbauan dalam satu minggu, satu hari WFA,” ungkap Karyoto.
Polri juga mendukung program pemerintah dalam menstabilkan harga pangan seperti beras murah yang menurut Karyoto masih berjalan.
Mantan Kapolda Metro Jaya itu juga mengajak masyarakat agar menaikkan harga barang sewajarnya agar tidak membebani masyarakat kecil lainnya.
“Kalau yang wajarnya naik Rp500, jangan Rp3.000. Ini kita imbau bersama, karena kita hidup dalam sosial kemasyarakatan. Jangan karena ada harga BBM (naik), mau semuanya dinaikkan. Jangan, kasihan,” katanya.
Karyoto menyebut jika harga upah minimum regional (UMR) naik, maka akan merepotkan semua pihak termasuk pengusaha.
Oleh karena itu Karyoto berharap semua elemen bangsa menyadari bahwa situasi saat ini terjadi karena peristiwa force majeure dunia, bukan dari dalam Indonesia.
Kenaikan harga BBM dipicu perang di Timur Tengah, sehingga menghambat pasokan BBM yang melewati jalur di Selat Hormuz.
“Pemerintah sudah berupaya untuk mencari alternatif lain. Dan salah satunya, subsidi tetap dipertahankan untuk masyarakat. Yang sifatnya umum, motor dan lain-lain. Itu guna menekan harga,” kata Karyoto.(wa/an)
