
Jakarta, mediakorannusantara.com-Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menilai koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) sebagai peringatan penting bagi pasar modal Indonesia.
Menurutnya, pelemahan signifikan dalam dua hari terakhir harus dipandang sebagai momentum untuk memperbaiki struktur pasar saham domestik, mengingat kondisi fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih sangat kokoh. Pandu menekankan bahwa seluruh pemangku kepentingan tidak perlu bersikap defensif, melainkan harus segera menyelesaikan kesepakatan dengan MSCI yang proses peninjauannya telah berlangsung selama hampir empat bulan.
Tekanan pada IHSG bermula setelah MSCI mengumumkan rencana pembekuan sementara proses tinjauan dan penyeimbangan indeks bagi saham-saham di Indonesia, termasuk untuk periode Februari 2026.
Dampaknya langsung terasa pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1), di mana IHSG anjlok 6,66 persen ke posisi 8.382,48. Tren negatif tersebut berlanjut hingga Kamis pagi (29/1) dengan pelemahan tambahan sebesar 4,30 persen yang membawa indeks ke level 7.962,79. Situasi ini menunjukkan urgensi bagi regulator untuk menyelaraskan standar pasar modal Indonesia dengan pasar global seperti China, Hong Kong, dan India.
Menanggapi dinamika tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak cepat dengan menyiapkan penyesuaian aturan batas minimal saham publik atau free float.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menyatakan bahwa regulator akan meningkatkan standar free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen yang ditargetkan mulai berlaku pada Februari 2026. Langkah ini diambil untuk meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar. Selain itu, OJK menegaskan akan memberlakukan kebijakan keluar atau exit policy yang tegas bagi emiten-emiten yang tidak mampu memenuhi ketentuan baru tersebut dalam jangka waktu yang ditetapkan.( wa/ar)
