Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat meninjau langsung kesiapan salah satu koperasi di Desa Pucangan, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban usai mengikuti Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-78 dan telekonferensi bersama Presiden Prabowo Subianto, dalam peluncuran kelembagaan 80.000 Koperasi Merah Putih se-Indonesia, Senin (21/7/2025).
Tuban (mediakorannusantara.com) – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menargetkan seluruh Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Jatim dapat beroperasi penuh pada akhir September 2025.
Target ini disampaikan Gubernur Khofifah, saat meninjau langsung kesiapan salah satu koperasi di Desa Pucangan, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban pada Senin (21/7/2025).
Tinjauan ini dilakukan Gubernur Khofifah, usai mengikuti Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-78 dan telekonferensi bersama Presiden Prabowo Subianto, dalam peluncuran kelembagaan 80.000 Koperasi Merah Putih se-Indonesia.
“Koperasi Merah Putih sudah diluncurkan oleh Pak Presiden, secara kelembagaan. Di Jawa Timur koperasi desa dan kelurahan, terbanyak di antara seluruh provinsi se-Indonesia. Tercepat pula proses penyelesaian badan hukumnya, sinergitas dengan Kanwilkum dan notaris luar biasa, oleh bupati/wali kota juga kepala desa,” ujar Khofifah.
Khofifah menyebut, dari 103 koperasi yang siap beroperasi secara nasional, 23 di antaranya berasal dari Jawa Timur. Bahkan, ia memastikan langsung kesiapan koperasi-koperasi yang belum diluncurkan secara simbolis.
“Saya melihat kesiapannya cukup baik, karena supliernya bagus. Pertama, Bulog terima kasih. Bulog sudah mendeploi logistik yang memang diproduksi oleh Bulog, ada beras, gula, minyak goreng, dan nanti setelah ini menunggu finishing kontrak dengan Pertamina untuk LPG 3 Kg, bahkan mungkin untuk Pertashop,” jelasnya.
Tak hanya logistik kebutuhan pokok, gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini juga menyebut beberapa layanan lain yang telah dijalankan Koperasi Merah Putih. Seperti di antaranya distribusi pupuk, pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) melalui sinergi dengan Samsat dan BUMDes, hingga layanan apotek.
“Kemarin ketika di Miji, Kota Mojokerto, itu sudah berjalan dan akan terus bergerak di sektor-sektor lainnya. Di sini (Tuban) apotek juga sudah berjalan,” ujarnya.
Khofifah menekankan bahwa keberadaan Koperasi Merah Putih ini menjadi solusi dalam memutus rantai pasok yang panjang dan menyebabkan harga barang menjadi mahal.
“Yang potensial untuk memberikan efisiensi, berarti menekan harga menjadi sangat murah, itu yang bisa memutus mata rantai pasok, terutama untuk logistik,” tegasnya.
Ia menyampaikan optimisme bahwa Jawa Timur bisa lebih cepat merealisasikan target operasional penuh koperasi dibandingkan jadwal nasional.
“Kalau Pak Presiden mentargetkan akhir Oktober semua sudah operasional, maka Jawa Timur akan maju satu bulan. Akhir September itu diharapkan semua sudah operasional,” harap Khofifah.
Menurutnya, upaya percepatan dilakukan melalui gotong royong dari berbagai lini dan dukungan BUMN. Termasuk pula, kata dia, melalui program CSR dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) maupun Bank Daerah.
“BRI membantu misalnya gerai di mana, kemudian BNI di mana, kemudian ada Bank Mandiri di mana. Tambah lagi Bank Daerah, Bank Jatim di mana, Bank UMKM di mana,” tuturnya mencontohkan.
Khofifah juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara koperasi dengan pelaku usaha mikro dan ultra mikro di sekitarnya agar tidak terjadi gesekan akibat perbedaan harga jual.
“Tidak boleh kehadiran Koperasi Merah Putih meresahkan pelaku ultra mikro dan usaha mikro di sekitar lokasi koperasi. Biasanya disebut perancangan kalau di Jawa Timur,” jelasnya.
Sebagai contoh, ia menyebut harga beras yang dijual Koperasi Merah Putih bisa lebih murah dibanding Harga Eceran Tertinggi (HET). Untuk itu, perlu pengaturan agar koperasi tidak dianggap menjadi pesaing pelaku usaha kecil.
“Kalau itu kemudian tidak boleh menjual ke toko atau kepada mereka yang akan dijual ulang, maka potensial ini akan menimbulkan keresahan dari pelaku ultra mikro dan UKM sekitar ini,” ucap Khofifah.
Maka dari itu, Khofifah mendorong agar Koperasi Merah Putih diberi legalitas sebagai agen atau distributor resmi dari produk-produk yang dijual, seperti LPG yang bisa dikelola melalui pangkalan.
“Koperasi Merah Putih bukanlah kompetitor, bukanlah pesaing. Koperasi Merah Putih adalah mitra. Maka harus berkolaborasi dengan lingkungan sekitarnya,” tegasnya.
Khofifah pun menyambut baik peluncuran 80.081 kelembagaan Koperasi Merah Putih, yang bertepatan dengan momen Hari Koperasi Internasional. Hal ini sebagaimana telah ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
“Mudah-mudahan semangat ini menular, dan di-support seluruh BUMN-BUMN yang ditugaskan,” tandasnya. (KN01)
