
Probolinggo, mediakorannusantara.com – Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur menyebut perayaan Yadnya Kasada 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian budaya masyarakat Tengger.
“Yadnya Kasada merupakan salah satu warisan budaya dan tradisi spiritual masyarakat Tengger yang memiliki nilai luhur serta harus terus dilestarikan,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo Akhmad Arief Hermawan CM di Kabupaten Probolinggo, Sabtu (30/5).
Akhmad Arief Hermawan CM mengatakan Yadnya Kasada terdiri dari dua rangkaian kegiatan, yaitu kegiatan inti berupa ritual keagamaan masyarakat Tengger sebagai bentuk korban suci dan kegiatan pendukung yang bertujuan memperkuat pelestarian budaya serta memperkenalkan kekayaan tradisi tersebut kepada masyarakat luas.
Setelah pelaksanaan Mendak Tirta dan Atur Suguh pada Jumat (29/5), rangkaian ritual akan dilanjutkan dengan Pawedalan Pura Luhur Poten sebelum memasuki puncak Yadnya Kasada pada 1 Juni 2026 atau Senin dini hari.
“Rangkaian ritual itu bukan hanya memiliki makna spiritual bagi masyarakat Tengger, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, keberlangsungannya harus terus dijaga dan didukung bersama,” katanya.
Selain kegiatan ritual, Yadnya Kasada 2026 juga akan diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung yakni akan digelar resepsi budaya dan pengukuhan lima tokoh sebagai warga kehormatan sesepuh Tengger di Pendopo Agung Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura pada 31 Mei 2026.
“Pengukuhan warga kehormatan sesepuh Tengger merupakan bentuk penghargaan kepada para tokoh yang selama ini memberikan perhatian dan dukungan terhadap pelestarian budaya serta kehidupan masyarakat Tengger,” katanya.
Ada lima tokoh yang akan dikukuhkan sebagai warga kehormatan Tengger yakni Kapolres Probolinggo, Kapolres Probolinggo Kota, Dandim 0820 Probolinggo, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Probolinggo dan Danyon TP 836/Brahma Yodha.
“Itu menjadi simbol kuatnya sinergi antara masyarakat adat dengan berbagai unsur pemerintah dan aparat,” ujarnya.
Akhmad Arief Hermawan CM menjelaskan bahwa upaya pelestarian budaya Tengger juga dilakukan melalui sektor pendidikan.
Disdikdaya Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Universitas Negeri Yogyakarta akan menggelar workshop dan pendampingan pembelajaran berbasis budaya lokal bagi guru dan kepala sekolah SD maupun SMP pada 3 Juni 2026 di SMPN 1 Sukapura.
“Kami ingin memperkuat peran sekolah dalam menanamkan nilai-nilai budaya lokal kepada peserta didik dengan harapan generasi muda tidak hanya mengenal budaya Tengger, tetapi juga memiliki rasa bangga dan tanggung jawab untuk menjaga serta melestarikannya di masa depan,” katanya.(wa/an)
