Surabaya (KN) – Walikota Surabaya Tri Rismaharini bersama ratusan PNS di lingkungan Pemkot Surabaya, Kamis (24/5) pagi, melakukan bersih-bersih di sepanjang Jl Keputran. Walikota tak segan-segan memungut sampah dan memasukannya ke karung sambil sesekali memberikan instruksi kepada anak buahnya. Hal seperti itu bukan merupakan sesuatu yang asing mengingat Tri Rismaharini pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya.
Asisten II Muhlas Udin menjelaskan, kegiatan kerja bakti masal ini sudah menjadi kegiatan rutin Pemkot Surabaya. Sebelumnya, pemkot juga pernah bersih-bersih pantai kenjeran, bozem morokrembangan, dan Kebun Binatang Surabaya (KBS). “Kami rutin melaksanakan kerja bakti dan lokasinya berpindah-pindah. Nah kebetulan kali ini di sepanjang Jl Keputran,” ujarnya ketika dijumpai di sela-sela kerja bakti.
Dipilihnya kawasan Keputran, lanjut Muhlas, didasari adanya laporan bahwa di sini semakin kotor dan banyak sampah. Kemungkinan yang paling besar turut andil menyumbang sampah tersebut tak lain para pedagang di area itu. Benar saja, berdasarkan pantauan di lapangan, sebagian besar sampah yang terkumpul memang sisa-sisa dari kegiatan dagang seperti batok kelapa, plastik, botol minuman, peti kayu kemas, dan lain sebagainya.
“Makanya, sembari membersihkan sampah kami tadi juga melakukan edukasi kepada para pedagang. Kalau areanya bersih kan para pembeli juga senang,” kata Muhlas.
Dari kerja bakti tersebut, hasil sampah yang terkumpul sebanyak 15 dump truck milik DKP dengan kapasitas per truk 10 m3, 5 truk Satpol PP masing-masing berisi 14 m3, dan 2 truk Jasa Tirta dengan daya muat 8 m3 sehingga total volume sampah yang terkumpul sekitar 236 m3.
Sampah itu kemudian dipilah, yang berunsur kayu akan digunakan untuk membakar aspal sedangkan yang lainnya diangkut ke TPA Benowo. Selain itu, Pemkot juga menanam 95 pohon di sejumlah titik di sepanjang Jl. Keputran. Pohon-pohon tersebut semakin menambah keindahan Jl. Keputran apalagi sebelumnya sudah ada taman di sana.
Sasaran pembersihan tak hanya sampah saja, namun juga puluhan bangunan semi permanen yang berdiri di sepanjang tepi sungai Kalimas, tepatnya yang berada di sisi Jl. Keputran. Melihat bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu itu masih berdiri, Satpol PP tak ragu untuk membongkarnya. Pasalnya, petugas telah berulang kali memperingatkan para pemilik bangunan liar (bangli) itu.
“Makanya, ketika dibongkar tadi tidak ada perlawanan karena mereka sudah menyadari bahwa mereka salah. Bahkan beberapa malah membongkar sendiri,” ungkap Dari, Kabid Pengendalian Operasional Satpol PP Kota Surabaya/
Menurut Dari, puluhan bangli yang dibongkar dinilai melanggar karena berdiri di atas badan jalan. Hal itu jelas menggangu karena jalur tersebut seharusnya digunakan untuk jogging track. Disamping itu, bangli juga dibangun di atas saluran air sehingga menggangu sistem sanitasi. “Itu jelas melanggar, kalau seperti itu kepentingan orang lain, khususnya yang hendak menggunakan jogging track akan terganggu,” imbuhnya. (anto)
