KORAN NUSANTARA
ekbis Hallo Nusantara Headline Nasional

Sinergi BPOM dan Kemenkes Percepat Inovasi Alat Deteksi TBC Serta Hilirisasi Obat Bahan Alam

Kemenkes-BPOM sebut inovasi alkes perlu dipercepat guna eliminasi TB

Jakarta, mediakorannusantara.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya penguatan regulasi, percepatan inovasi kesehatan, serta pengembangan produk kesehatan dalam negeri, termasuk alat deteksi tuberkulosis berupa Interferon-Gamma Release Assay (IGRA).

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan beban penyakit tuberkulosis di Indonesia masih berada pada level yang tinggi, di mana terdapat sekitar 867 ribu kasus yang terdiagnosis dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

“Kalau kita bisa bikin harga tes IGRA dari 1 juta menjadi hanya sekitar 50 ribu, dampaknya terhadap keuangan negara akan sangat besar,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus di Jakarta, Selasa (21/04/2025).

Wakil Menteri Kesehatan menilai efisiensi dalam pengembangan teknologi kesehatan sangat krusial, terutama pada aspek diagnostik seperti tes darah IGRA, sehingga diperlukan pengawalan lintas sektor terhadap inovasi yang sedang dikembangkan.

“Saya minta tolong nanti kita kawal bersama supaya tes IGRA ini mendapatkan atensi karena ini sangat penting untuk percepatan penanggulangan TBC di Indonesia,” katanya.

Benjamin Paulus Octavianus juga mengapresiasi kinerja BPOM yang dinilai semakin cepat dan responsif, yang mana hal ini didukung oleh pernyataan pihak industri seperti Biofarma yang merasa proses koordinasi kini berjalan jauh lebih lancar.

Selain fokus pada alat deteksi, BPOM terus mendorong pengembangan obat berbasis bahan alam sebagai langkah nyata mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional melalui pendekatan riset dan hilirisasi yang tepat.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi bahan alam yang sangat luar biasa besar sehingga sudah sepatutnya terus dikembangkan secara maksimal.

“Kalau negara punya produk sendiri, kenapa kita tidak memanfaatkannya? Dengan sumber daya yang kita miliki, seharusnya Indonesia bisa menghasilkan solusi kesehatan sendiri,” ujar Taruna Ikrar.

Taruna Ikrar berpendapat bahwa peningkatan nilai tambah merupakan kunci utama dalam penguatan industri farmasi nasional, mengingat potensi ekonomi dari bahan alam di Indonesia diperkirakan mampu mencapai angka ratusan triliun rupiah setiap tahunnya.

“Kita ingin naikkan statusnya, bukan sekadar obat bahan alam atau obat herbal terstandar, tetapi menjadi produk farmasi yang bernilai lebih tinggi,” katanya.

Taruna Ikrar menambahkan bahwa dari sekitar 40.000 spesies tumbuhan yang ada di dunia, sekitar 31.000 di antaranya tumbuh di Indonesia dan memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal.

Dalam proses ini, BPOM menjalankan peran strategis untuk memastikan setiap inovasi yang dikembangkan telah memenuhi standar keamanan, khasiat, serta mutu yang terjamin sebelum digunakan secara luas oleh masyarakat.(wa/ar)

Related posts

Gubernur Khofifah Optimis Kompetensi dan Prestasi Siswa Jatim Semakin Meningkat Wujudkan Indonesia Emas 2045

kornus

Tak Bisa Hentikan Penerimaan CPNS Baru, Fitra Menilai SKB Tiga Menteri Mandul

kornus

Mendagri sebut Sistem Pemerintahan IKN Nusantara Setara Provinsi dengan Kekhususan