Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno.
Surabaya (mediakorannusantara.com) – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA/SMK sederajat di Jawa Timur dinilai belum memuaskan. Sejumlah mata pelajaran mencatatkan nilai rendah, terutama matematika. Data Kemendikdasmen menunjukkan nilai rata-rata matematika siswa SMA/SMK di Jawa Timur hanya mencapai 36,77.
Berdasarkan persentase capaian siswa, sebanyak 41,6 persen peserta TKA di Jawa Timur memiliki nilai matematika kategori kurang. Sementara itu, siswa dengan kemampuan memadai tercatat sebesar 35,1 persen, kategori baik 21,2 persen, dan kategori istimewa hanya 2,1 persen.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, menyampaikan keprihatinannya. Ia mengaku telah melakukan pengamatan langsung melalui metode sampling saat turun ke daerah pemilihannya (dapil).
“Saya itu sampling, turun di Dapil, kepada anak-anak kita,” ujar Sri Untari ditemui usai acara peresmian SLB-B Negeri Karya Mulia di Jalan Ahmad Yani No. 6-8, Surabaya, Senin (5/1/2026).
Sri Untari juga menceritakan pengalamannya saat melakukan sampling di sekolah rakyat, khususnya pada siswa jenjang sekolah dasar (SD) yang menurutnya menunjukkan lemahnya kemampuan dasar berhitung.
“Saya coba sampling turun di sekolah rakyat, (siswa) SD (saya tanya) 2×3, mikirnya kok lama, 4×2 (tidak jawab), tak turunkan lagi (pertanyaannya) 1×2, baru bisa (jawab) 2. (Tanya lagi) 10:5, mikir deh ini,” ungkapnya.
Menurutnya, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya kemampuan akademik siswa. Salah satunya berkaitan dengan metode pengajaran dan kesabaran guru dalam mendampingi siswa.
“Ini menurut saya ada beberapa faktor-faktor. Pertama, tingkat untuk teknik maupun pola dalam rangka guru itu telaten ngajarin muridnya, itu kurang sabar, bisa jadi,” jelasnya
Ia membandingkan metode pembelajaran di masa lalu dengan kondisi saat ini. Dimana saat ini sumber belajar sebenarnya lebih mudah diakses, baik melalui buku maupun platform digital.
“Karena saya dulu kan pernah sekolah diajarin ada cara umum, ada cara khusus. Nah, sekarang ini di Youtube maupun di buku-buku, itu banyak cara khususnya. Ini kan bisa diakses oleh semua. Jadi (faktor) kesabaran pendidik menurut saya,” ucap dia.
Selain faktor pendidik, Sri Untari juga menyoroti rendahnya tingkat konsentrasi siswa dalam proses belajar. “Yang kedua, anak-anak sekarang kurang fokus, banyak kurang fokus. Fokusnya itu paling 8 menit. Habis itu sudah kemana-mana,” paparnya.
Padahal, menurutnya, mata pelajaran seperti matematika dan ilmu pengetahuan alam (IPA) membutuhkan konsentrasi tinggi karena tidak bisa hanya dihafalkan.
“Padahal kalau kita mau mendalami ilmu ilmiah, ilmu matematika, ilmu IPA, itu butuh fokus. Karena tidak bisa dihafal, Biologi mungkin bisa dihafal, tetapi untuk memecahkan rumus-rumus kimia, rumus fisika, itu kan butuh concern,” bebernya.
Ia menilai rendahnya konsentrasi menjadi persoalan utama yang dihadapi siswa di Jawa Timur saat ini. “Nah di-concern itulah yang kayaknya anak-anakku hari ini banyak kurang concern,” ujarnya.
Sebagai solusi, Sri Untari mengusulkan pembatasan penggunaan telepon genggam selama kegiatan belajar mengajar berlangsung. “Solusinya HP-nya jangan dipakai di dalam ruangan,” kata dia.
Menurutnya, gawai menjadi salah satu sumber distraksi utama bagi para siswa. Untuk itu, ia mengusulkan saat proses pembelajaran seluruh gadget siswa agar ditaruh di tempat yang ditentukan.
“Sebelahnya papan tulis, itu ada tempat untuk HP. Jadi pada saat belajar dititipkan di situ, nanti istirahat silahkan bawa. Solusinya pertama itu,” ungkap dia.
Selain itu, Sri Untari menilai siswa juga perlu diajarkan cara melatih fokus secara bertahap. “Fokus itu salah satu caranya adalah meditasi. Jadi suruh diam beberapa saat, saat diam itu apa yang dipikirkan, itu ajarin fokus,” ujarnya.
Sri Untari juga menilai rendahnya capaian TKA bisa jadi dipengaruhi oleh perubahan sistem evaluasi pendidikan. Salah satunya karena TKA tidak memiliki konsekuensi sebesar Ujian Nasional (UN). “Itu bisa jadi. Ada (faktor) salah satu begitu,” imbuh legislator asal PDI Perjuangan tersebut.
Ia menyebut, orientasi siswa terhadap capaian akademik juga mulai bergeser. “Kenapa? Karena mereka tidak bergerak untuk sesuatu yang mereka cita-citakan. Karena orang Indonesia itu masih targeting kerjanya. Bukan panggilan dari diri sendiri, tapi ditarget apa, dan sesuai target. Itu masih seperti itu,” paparnya.
Oleh sebab itu, Sri Untari mengajak semua pihak untuk bersama-sama mengevaluasi kondisi pendidikan saat ini demi masa depan generasi muda. “Ayo kita bareng-bareng, kita coba telaah bareng-bareng, kenapa generasi kita begini. Itu yang penting buat kita,” pungkasnya. (KN01)
