
Surabaya (mediakorannusantara.com) – Peduli terhadap fenomena penurunan tanah yang terjadi di kawasan pesisir perkotaan, mahasiswa Departemen Teknik Geomatika (DTG) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang SUBTRACK. Sebuah sistem pemetaan Web Geographic Information System (WebGIS) untuk memetakan zona prioritas infrastruktur permukiman yang terdampak banjir dan lalu lintas kendaraan muatan berat.
Memahami lebih lanjut, Ketua Kelompok 9 Kemah Kerja Tematik DTG Jalesveva Ananda Khozin menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penurunan tanah. Seperti di Kelurahan Tanjung Perak, Surabaya terjadi penurunan tanah yang dipengaruhi oleh konsolidasi tanah akibat curah hujan serta tekanan mekanis dari lalu lintas kendaraan bermuatan berat. “Dari data InSAR, laju penurunan tanah di Kota Surabaya mencapai sekitar 6,1 milimeter per tahun terkonsentrasi di area barat dan utara,” ungkap mahasiswa yg kerap disapa Veva ini.
Proses pengolahan data dimulai dengan pemanfaatan citra deformasi permukaan tanah dari satelit Sentinel-1 yang membawa sensor Synthetic Aperture Radar (SAR) C-band. Satelit ini dapat mengukur deformasi permukaan hingga skala milimeter di berbagai kondisi cuaca dan waktu pengamatan. Selanjutnya, analisis deret waktu deformasi periode 2016-2025 dilakukan menggunakan perangkat lunak LiCSBAS dengan metode Small Baseline Subset (SBAS) yang memanfaatkan interferogram dari portal LiCSAR.
Selanjutnya, pemodelan banjir juga dilakukan secara dua dimensi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 2D. Data curah hujan yang dimasukkan ke dalam perangkat lunak bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sedangkan data elevasi permukaan diperoleh dari Digital Surface Model (DSM) hasil Light Detection and Ranging (LiDAR). Selain data sekunder tersebut, pencacahan jumlah kendaraan berat yang melintas di area Kelurahan Tanjung Perak juga dilakukan secara langsung di lapangan. “Pengambilan data jumlah kendaraan dilakukan dalam dua jam per hari selama tujuh hari,” paparnya.
Sebelum dibuat peta zona prioritas, seluruh data yang telah terakumulasi diintegrasikan melalui proses weighted overlay dan Analytical Hierarchy Process (AHP) menggunakan ArcGIS Pro. Keluaran akhir dari penelitian ini berupa tiga produk utama. Meliputi peta laju subsidens Kota Surabaya, peta risiko banjir Kelurahan Tanjung Perak dan aplikasi peta interaktif berbasis WebGIS untuk menentukan daerah mana yang menjadi prioritas penanganan infrastruktur permukiman.
Dengan inovasi yang dikembangkan ini, masyarakat diharapkan dapat lebih waspada terhadap risiko penurunan tanah dan banjir di lingkungan sekitarnya. Veva dan tim berharap peta zona prioritas ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan penanganan infrastruktur yang lebih tepat sasaran di Kelurahan Tanjung Perak. “Rekomendasi yang bisa dilakukan seperti perbaikan sistem drainase dan penguatan infrastruktur jalan pada zona dengan laju subsidens tinggi,” ujarnya.
Inovasi yang dicetuskan oleh mahasiswa ITS ini mempercepat ketercapaian sasaran dalam Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Selain manfaatnya untuk penanggulangan banjir, inovasi yang dibawakan juga mewujudkan SDGs ke-11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan. (jack)
