Jakarta, mediakorannusantara.com– Penggunaan merkuri harus segera disudahi karena terbukti banyak merugikan lingkungan, termasuk membahayakan kesehatan masyarakat.
Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, Bahan Beracun dan Berbahaya (Dirjen PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rosa Vivien Ratnawati, mengatakan pemerintah berkomitmen untuk menghentikan penggunaan merkuri, yang ditunjukkan dengan terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah sidang “The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4)” Konvensi Minamata.
“Dengan itu, Indonesia menunjukan kepemimpinannya untuk menyelesaikan persoalan. Dengan presidensi Indonesia, kita dapat menunjukkan kepemimpinan internasional dalam hal penyelamatan lingkungan,” ujar Dirjen PSLB3 KLHK, yang juga merupakan Presiden COP4 pada diskusi “Menuju Mercury is History,” yang digelar secara daring, pada Jumat (18/3/2022).
Diskusi itu yang digelar atas kerjasama KLHK dengan United Nations Development Programme (UNDP) itu, adalah bagian dari rangkaian “The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata”, yang pertemuan puncaknya akan digelar di Bali, pada 21-25 Maret mendatang.
Lebih lanjut Vivien menjelaskan, pemerintah Indonesia, melalui KLHK telah menargetkan pengurangan penggunaan senyawa merkuri, terutama pada alat-alat kesehatan.
Dengan begitu, termometer (alat pengukur suhu), tensimeter (alat pengukur tensi darah) dan bahan tambal gigi tak akan lagi menggunakan merkuri.
“Pada sektor manufaktur, industri-industri yang menggunakan merkuri sebagai bahan baku, di sini diminta mengurangi tiga puluh persen sampai tahun 2030. Kenapa tidak seratus persen, karena industri harus cari bahan baku lain,” imbuhnya.
Menurut Rosa, pemerintah juga akan menghentikan penggunaan merkuri pada industri lampu, industri energi serta di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) secara bertahap.
Saat ini, lanjutnya, KLHK sudah membantu pelaku penambang emas di sembilan lokasi di Indonesia, untuk tidak lagi menggunakan merkuri.
“Ketika kita melarang dia untuk menambang emas dengan merkuri, harus alih profesi. Pemerintah juga harus membantu alih profesi seperti apa. Kita tidak hanya melarang-larang, tapi juga bantu alih profesi,” jelasnya.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (Kepala P3TKEBT ESDM) Hariyanto menambahkan, pihaknya juga berkomitmen untuk menyudahi penggunaan merkuri di Indonesia dengan mengurangi penggunaan merkuri di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) secara bertahap.
Selain itu, menurutnya Kementerian ESDM juga tengah membantu pengurangan merkuri di industri lampu dengan mengganti ke lampu jenis LED.
Selain tidak menggunakan merkuri, lampu LED juga relatif lebih hemat listrik. sehingga membantu efisiensi energi nasional.
“Di 2035, kita proyeksikan penggunaan lampu ini mengarah ke high efisien, kita bisa berhemat 41 terawatt per jam, ini cukup signifikan, setara dengan penurunan 36 juta ton CO2. Penurunan emisi gas rumah kaca,” tuturnya.(wan/inf)

