Blitar (KN) – Senin, 1 Juni 2015, genap 70 tahun usia peringatan hari lahirnya Pancasila. Pada saat itu, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno menyatakan secara gamblang filosofi Pancasila sebagai ideologi negara di hadapan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), peristiwa itulah yang kemudian dikenang sebagai hari lahirnya Pancasila.Mulai saat itu, 1 Juni menjadi tanggal yang sangat penting bagi perjalanan sejarah bangsa ini, yakni hari lahirnya Pancasila yang menjadi dasar negara serta pemersatu bangsa Indonesia dari Sabang hingga Marauke. Pada rapat BPUPKI, Bung Karno mengakui pada saat berumur 16 tahun dan bersekolah di H.B.S. di Surabaya, Jawa Timur.
Berikut kutipan pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945: “Dasar negara, yakni dasar untuk di atasnya didirikan Indonesia Merdeka, haruslah kokoh kuat sehingga tak mudah digoyahkan. Bahwa dasar negara itu hendaknya jiwa, pikiran-pikiran yang sedalam-dalamnya, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi. Dasar negara Indonesia hendaknya mencerminkan kepribadian Indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya dan sekalian itu dapat pula mempersatukan seluruh bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, aliran, dan golongan penduduk,”
“Dasar negara yang saya usulkan. Lima bilangannya. Inilah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya menamakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa (Muhammad Yamin) namanya Pancasila. Sila artinya asas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia kekal dan abadi,”
Tahun ini, peringatan hari lahirnya Pancasila (1 Juni 2015) diperingati di Alun-alun Taman Kota Blitar, Jawa Timur. Dipilihnya Blitar karena sebagai kota disemayamkannya Bung Karno sebagai pencetus lahirnya Pancasila. Uniknya, peringatan ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang diperingati di Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) di Senayan, Jakarta.
Pada kesempatan itu, Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo mengatakan bahwa pidato yang disampaikan Bung Karno pada tujuh puluh tahun lalu benar-benar menginspirasinya. Cita-cita dan harapan Bung karno untuk mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, berdikari dan berkepribadian tertanam kuat di benaknya.
“Saya selalu teringat pidato Bung Karno 70 tahun yang lalu didepan BPUPKI, dimana beliau mengikrarkan Pancasila. Itulah yang berkobar dalam dada saya. Pernyataan Bung Karno itu mengingatkan kita, bahwa tidak ada satupun bangsa yang merdeka tanpa melalui perjuangan, kemudian berdirinya negara Indonesia bukan berarti perjuangan selesai, ini justru baru permulaan” katanya.
Dalam menegakkan Pancasila, kita harus memiliki dua hal, kata Jokowi. Pertama, persatuan Indonesia. Pasalnya, negara ini bukan dibangun untuk satu golongan atau bebrapa kelompok saja, bangsa ini perlu kebersamaan, dan gotong royong seluruh elemen bangsa.
“Kedua, keberanian untuk menjebol mentalitas bangsa pada ketidakadilan dan membangun mentalitas baru sebagai bangsa yang merdeka 100%. Kita perlu pikirkan, apakah rakyat di perbatasan, di pulau-pulau terluar, para PRT, pedagang kecil, petani, hingga rakyat kecil lainnya merasakan kemerdekaan dan berdaulat pada arti yang sesungguhnya?” katanya.
Agar bangsa ini bisa mewarisi api perjuangan Bung Karno, Presiden mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum hari lahirnya Pancasila ini untuk bersatu dan bergotong royong dalam mewujudkan janji-janji kebangsaan untuk membumikan Pancasila. Sehingga, masyarkat yang cerdas, adil, dan sejahtera dapat terwujud.
Sementara itu, Ketua MPR, Zulkifli Hasan mengatakan, “janji-janji kebangsan” harus diwujudkan dan menjadi pemandu perjalanan bangsa menuju kehidupan yang lebih adil, makmur dan sejahtera, khususnya di era sekarang dimana bangsa ini sedang menghadapi era globalisasi.
“Perwujudan janji-janji luhur kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila adalah tantangan besar bagi bangsa saat ini dan yang akan datang, ditengah krisis multidimensi baik politik, ekonomi, sosial dan budaya. Karena itu, hari ini, saya mencanangkan gerakan “Ini Baru Indonesia” sebagai metode permasyarakatan nilai-nilai kebangsaan agar tetap kokoh berada dalam sanubari setiap manusia Indonesia” katanya.
Sebagai sebuah gerakan, “Ini Baru Indonesia” diharapkan dapat melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk menyadarkan kembali betapa pentingnya nilai-nilai kebangsaan dalam kehidpan berbangsa dan bernegara. “MPR menjadi motor penggerak dalam mengimplementasikan gerakan ini” tegasnya.
Hadir pada kesempatan itu, Presiden ke-5 RI, Megawati, Wapres ke-6 RI, Boediono, Gubernur Jatim, Dr. H. Soekarwo, para bupati dan walikota, diantaranya ibu walikota probolinggo, dan Ketua DPD, Imran Usman. (hms/yo)
