Surabaya (MediaKoranNusantara.com) – Pemerintah Provinsi Jatim mengakui di Jatim kekurangan keberadaan SMK dan SMA di beberapa Kabupaten/kota untuk memenuhi sistem zonasi yang masih diberlakukan dalam penerimaan siswa baru (PPDB).
“Kita akui masih banyak kekurangan sekolah SMK dan SMA dalam penerimaan siswa baru dengam sistem zonasi. Kita akan terus berupaya agar gedung sekolah akan terpenuhi dalam penerapan zonasi,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jatim, Wahid Wahyudi disaat ikuti kegiatan yang berlangsung di ITS, Selasa (27/4/2021).
Menurut Wahid untuk memenuhi hal tersebut, kerjasama antar propinsi dan Kabupaten/Kota harus dilakukan agar pemenuhan sekolah sesuai zonasi bias terpenuhi di wilayah Kota Kabupaten.
“Tahun 2021 ini alhamdulillah, ada lima sekolah SMK yang akan didirikan di Jatim hasil kerjasama antara Provinsi dengan kabupaten/kota setempat,” ungkapnya.
Dari data yang ada, kata Wahid, wilayah yang sudah melakukan kerjasama untuk membangun sekolah baru yakni Magetan dan Lamogan.
Dicontohkan oleh Wahid, di Kabupaten Magetan saat ini sedang disiapkan lahan 3 Ha untuk pendirian sekolah baru.
“Oleh Bupati Magetan disiapkan lahannya sedangkan untuk fisiknya yang membangun adalah Pemerintah provinsi. Begitu juga di Lamongan di Kecamatan Brondong akan dibangun SMK Maritim. Kolaborasi dengan pemda setempat sangat diharapkan karena yang sekolah adalah warga setempat,” jelasnya.
Dikatakan oleh Wahid, selain dua daerah tersebut, dibeberapa daerah lainnya sedang disiapkan untuk dibangun sekolah. ”Tempat lain yang belum ada Sekolah khusunya SMK yang akan segera dibangun ditahun ini,” ungkap Wahid.
Pemprov Jatim ditahun 2021 ini akan menambah 5 SMK di beberapa daerah Jawa Timur. Rencananya untuk pendiriannya nantinya akan dilibatkan pemerintah daerah setempat. Pembangunan SMA dan SMK tersebut untuk menjawab kalau saat ini Jatim krisis sekolah SMA dan SMK.
Mantan Kepala Dinas Perhubungan ini juga mengatakan, menjelang tahun ajaran baru khususnya lulusan SMP, untuk masuk SMK bila todak ada niatan guna meneruskan ke Perguruan Tinggi.
Dari data yang ada, kata Wahid, banyak lulusan SMA yang ternyata tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Lulusan SMA yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi baik Swasta maupun Negeri hanya 30 persen.
“Mereka tidak memiliki kemampuan ketrampilan seperti yang dimiliki lulusan SMK. Untuk itu kita imbau bila lulusan SMP yang mau melanjutkan bila tidak ada rencana untuk keperguruan tinggi, lebih baik melnajutkan ke SMK guna mendapatkan keterampilan untuk bekal ketika lulus nanti,” pungkas Wahid Wahyudi. (KN01)
