KORAN NUSANTARA
indeks Jatim

Penyaluran Raskin 2013, Bulog Jatim Tunggu Data Terbaru RTS Dari Tim Nasional

Surabaya (KN) – Perum Bulog Divisi Regional (Divre) Jawa Timur tahun ini direncanakan kembali akan menyalurkan beras untuk masyarakat miskin (raskin). Namun demikian, untuk penyaluran Bulog masih menunggu data terbaru Rumah Tangga Sasaran (RTS) dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).Kepala Perum Bulog Divre Jatim, Rusdianto di Surabaya, Senin (21/1/2013) mengakui hingga kini ia masih belum menerima data RTS terbaru. Kalau secara keseluruhan, jumlahnya sudah diketahui, namun untuk detailnya per desa, alamat dan nama penerima, itu masih dalam pengiriman. Mudah-mudahan hari ini sampai ke Gubernur sehingga besok bisa diteruskan ke Kabupaten/Kota dan sub divre bisa langsung melakukan penyaluran.

Menurutnya, tahun ini secara keseluruhan, jumlah RTS di Jatim mengalami penurunan menjadi 2.857.469 RTS. Sementara pada tahun 2012 periode Januari hingga Mei mencapai 3.079.822 RTS dan periode Juni hingga Desember mencapai 3.401.749 RTS. Penyusutan jumlah RTS ini menjadi indikasi bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat Jatim sudah semakin meningkat.

Adapun jatah raskin untuk tiap RTS tetap sama sebesar 15 kilogram per bulan dengan harga Rp 1.600 per kilogram. Raskin akan tetap disalurkan di seluruh Kabupaten Kota meskipun kabupaten kota tersebut masih mempunyai tunggakan pembayaran raskin tahun 2012. Ia yakin tunggakan tersebut secepatnya akan diselesaikan, mengingat periode penyaluran raskin tahun 2013 segera direalisasikan.

Tentang besaran tunggakan di seluruh Jatim, ia mengatakan mencapai Rp 2,8 miliar dan kini dalam proses pembayaran. Hal itu tidak masalah, karena memang alur pembayaran raskin berjenjang mulai dari keluarga.

Konsentrasi Sektor On-Farm
Sementara itu, upaya pengadaan beras oleh Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur terus ditingkatkan. Agar pengadaan mencapai target, saat ini Bulog Divre Jatim berkonsentrasi garap sektor on-farm. Konsepnya adalah Bulog bekerjasama dalam hal tanam padi dengan menyediakan sarana produksi, mulai dari bibit, pupuk hingga peralatan produksi.

Rusdianto mengatakan sektor on-farm memang menjadi salah satu konsep dalam melakukan pengadaan untuk menjamin ketersediaan stok. Di tahun 2012, pengadaan Bulog melalui on-farm cukup besar. Konsep on-farm, terdiri atas Kemitraan Mandiri, Mandiri dan Alternatif. Untuk Kemitraan Mandiri, ia melakukan penandatanganan kesepakatan dengan berbagai pihak.

Untuk on farm kemitraan mandiri, ditargetkan bisa mencapai 2.500 hektar. Pada masa tanam subround I untuk panen Maret/April sudah mencapai 1.448 hektar. Ia yakin, hingga masa tanam di subround II dan III, target akan tercapai. Jika satu hektar bisa menghasilkan 6 ton, maka untuk kemitraan mandiri bisa menyumbang pengadaan sekitar 15.000 ton.
Adapun untuk on farm mandiri, Bulog akan melakukan penanaman sendiri dengan menyewa lahan mencapai 50 hektar. Selain on farm mandiri, juga ada on farm alternatif. Kemitraan alternatif ini, dengan penggilingan besar yang biasanya sudah memiliki binaan dengan cara menyediakan sarana produksi bagi binaan mereka. Saat ini, jumlah kemitraan alternatif cukup besar, hingga kini total ada sekitar 116.502 hektar yang sudah terdata.

Selain on farm, strategi yang dilakukan adalah mendorong dan menarik seluruh pihak yang bergerak di sektor produksi pangan, jaringan semut dalam arti bekerjasama hingga tingkat penggilingan kecil dan mitra tani, serta pemberian insentif, baik disisi pelayanan, penyediaan karung plastik atau dengan optimalisasi kemitraan. Diharapkan, dengan berbagai alternatif pengadaan akan mampu memperbesar jumlah pengadaan beras di Jatim. (ms)

Related posts

DPRD Jatim Setujui Raperda Zonasi Wilayah Pesisir

kornus

Panglima TNI : Pertahankan Persepsi Positif Terhadap TNI

kornus

Dukung Satgas Gerakan Keluarga Maslahat NU. Gubernur Khofifah: Jadikan Sebagai Basis Penguatan Ketahanan Keluarga dan Ketahanan Nasional

kornus