Jakarta (KN) – Hasil Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menunjukkan hasil terbaru. Terlihat elektabilitas Partai Golkar dan PDIP mengalahkan Partai Demokrat.Peneliti CSIS Philips Vermont mengatakan, Golkar masih menjadi yang tertinggi dengan 18 persen suara. Sedangkan PDIP yang memperoleh 11,6 persen suara hanya berbeda sedikit dengan Partai Demokrat dengan 11,1 persen.
“Partai Demokrat pada 2009 mendapat suara terbanyak dengan 21 persen dan pada hasil survei saat ini justru turun dengan 11,1 persen ini merupakan indikasi hilangnya kepercayaan publik kepada partai ini,” jelas Philips dalam keterangan pers di Kantor CSIS, Jakarta, Rabu (8/8/2012) malam.
Menurut Philips, turunnya partai pemenang Pemilu 2009 tersebut langsung dimanfaatkan oleh pesaing terdekat mereka yakni Golkar dan PDIP yang langsung beranjak naik ke posisi pertama dan kedua dalam hasil survei.
Philips menerangkan, dalam rilis sebelumnya, riset CSIS pada 6-24 Januari 2012 lalu, menempatkan elektabilitas Partai Demokrat 12,6 persen, Partai Golkar hanya 10,6 persen, dan PDI Perjuangan 7,8 persen. Namun, Golkar dan PDIP harus tetap berhati-hati karena tingkat ketidakpercayaan masyarakat atau belum menjatuhkan pilihan masih tinggi, sekira 41 persen. “41 persen rakyat belum tentukan pilihan, justru ini bisa mengindikasikan pemilih akan lari ke parpol kecil,” terangnya.
Parpol-parpol menengah, lanjut Philips, seperti Gerindra, PPP, PKB, PKS, PAN, NasDem dan Hanura masih berada diposisi menengah dalam perebutan elektabilitas.
“Posisi PKS masih belum berubah malah sudah dilampaui oleh PPP dan PKB. Dan Partai Nasdem sebaga parpol baru justru melesat tajam dengan masuk kejajaran parpol elite tengah,” simpulnya.
Survei ini dilakukan dengan metode wawancara tatap muka yang dilakukan di 32 Provinsi (Papua tidak disurvei karena situasi tidak kondusif). Jumlah sampel 1.480 dengan margin of error 2.55 persen pada confidence level 95 persen, dengan pemilihan responden dilakukan dengan acak bertingkat dari tingkat kelurahan, RT, hingga terakhir kepala keluarga. (red)
