Surabaya (MediaKoranNusantara.com) – Tata niaga perniagaan gula di Jawa Timur semakin hari semakin carut marut. Pasalnya, saat ini ditengah musim giling di pabrik, harga gula di tingkat pabrik mengalami anjlok.
Anggota Komisi B DPRD Jatim Daniel Rohi mengatakan dari kunjungan dari sejumlah pabrik gula di Jatim diketahui bahwa banyak petani tebu mengeluh harga gula di tingkat pabrik mengalami anjlok sehingga banyak petani berancang-ancang untuk pindah ke komoditi lainnya.
“Harga idealnya Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu. Namun, saat ini malah harganya Rp 10 ribu. Ini sangat memprihatinkan sekali, “ungkapnya di Surabaya, Rabu (17/6/2020).
Politisi asal PDIP ini mengatakan saat ini produksi gula di Jatim sangat melimpah untuk pemenuhan masyarakat di Jatim. “Produksi pabrik gula itu saat ini mencapai 1 juta ton sedangkan untuk kebutuhan mencapai 450 ribu ton. Artinya ada surplus di Jatim,”jelas mantan anggota Dewan Pendidikan Jatim.
Dibeberkan oleh Daniel Rohi,gula yang dilelang di pabrik gula saat ini sudah tidak laku lagi.” Karena harganya rendah sehingga tak laku lagi,”lanjutnya. Disisi lain, lanjut Daniel Rohi, stok gula di Jatim saat ini masih banyak.
Pria kelahiran Atambua NTT ini mengatakan melimpahnya gula di Jatim pihaknya menduga saat ini dipasaran sedang beredar gula rafinasi yang mengancam peredaran gula lokal.
“Oleh sebab itu, kami berharap tak ada lonjakan harga gula seperti awal tahun lalu. Perlu ada koordinasi antara instansi di Jakarta dengan Pemprov Jatim kapan ada gula import masuk ke Jatim. Harus ada rencana yang jelas, dimana jangan sampai ada import ketika masuk musim giling,”jelasnya.
Daniel membeberkan kepastian informasi untuk mendatangkan gula import maksimal sudah didapat untuk diedarkan di Jatim pada November. “Jatim akan mengalami kelangkaan gula dikisaran bulan Januari hingga Juni 2021 mendatang. Pasalnya di bulan-bulan tersebut sudah berakhir musim giling dan produksi sudah selesai,”jelasnya.
Pada prinsipnya, kata Daniel Roho, pihaknya mendukung import gula masuk ke Jatim, namun jangan sampai mengganggu kebutuhan dan hajat hidup petani di Jatim.
“Saat ini gara-gara harga anjlok di tingkat pabrik, pabrik gula mendapatkan penghasilan sebesar 25 persen saja. Sedangkan 75 persen diberikan kepada petani,”lanjutnya.
Diterangkan oleh Daniel Rohi, sewaktu belum anjlok, harga gula mencapai 2,4 kali harga gabah dipasaran. “Sekarang anjlok sekali,”jelasnya.
Jika tak segera dilakukan upaya untuk menyelamatkan tata niaga gula, lanjut Daniel Rohi, maka akan terjadi carut marut tata niaga gula di Jatim. “ Bisa-bisa amburadul tata niaga gula di Jatim kalau tak kunjung diselesaikan oleh pemerintah,”lanjutnya.
Bagi dirinya, kata Daniel Rohi, saat ini bagaimana caranya petani tebu di Jatim mendapatkan kesejahteraan. “ Perlu ada perketat pengawasan supaya pabrik gula bisa memproduksi gula sebanyak-banyaknya jangan sampai beredar gula rafinasi yang merusak pasar,”jelasnya.
Daniel Rohi menambahkan kalau selama ini banyak pihak menyebut gula rafinasi produksinya menurut, pihaknya tak percaya hal tersebut.” Saat ini gula rafinasi justru mahal. Bisa tembus Rp 78 ribu harganya. Kalau sampai harga tidak turun, ini ada yang salah. Satgas Pangan Jatim harus bekerja lebih keras. Kalau tak ada upaya tersebut, maka kondisi tata niaga pergulaan di Jatim tak kunjung baik,”jelasnya.
Tak hanya itu, lanjut Daniel, dampak amburadulnya tata niaga gula di Jatim, banyak pabrik gula di Jatim terancam tutup. (KN01)
