Surabaya (KN) – Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan (Dishub dan LLAJ) Provinsi Jatim bekerjasama dengan Kementrian Perhubungan (Kemenhub) RI akan mengembangkan anggkutan massal yang berbasis bus. Nantinya, Bus Priority ini akan bebas hambatan dari trafig light, tentunya dengan dipasangi alat sistem khusus. “Ketika bus melewati trafic light, maka secara otomatis trafic light akan berubah menjadi hijau, sehingga bus akan terus berjalan,” ujar Kadishub dan LLAJ Provinsi Jatim, Wahid Wahyudi, di Surabaya, Selasa (12/11/2013).
Dikatakan Wahid, nantinya jarak antar bus dengan lainnya sekitar 10 menit. Tujuannya, agar dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengguna transportasi bus. Penumpang tidak harus menunggu lama. Dengan didukung sistem yang terkoneksi pada trafic light ini akan memudahkan ketepatan waktu bus dalam perjalanannya.
Untuk mendukung program angkutan massal ini, kata Wahid, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub RI. Rencananya, pada tahun 2014 mendatang, Pemprovinsi Jatim akan dibantu oleh Kemenhub RI sekitar 30 armada bus.
Untuk rute, Wahid menjelaskan, bus ini akan berangkat dari Porong kemudian masuk tol Sidorajo hingga tol waru. Kemudian, dari tol waru, bus masuk ke A Yani menuju terminal Joyoboyo.
Setelah itu, dari Joyoboyo masuk ke tol Gunungsari menuju ke Terminal Tambak Oso Wilangun. Begitu juga sebaliknya, ketika bus berangkat dari Tambak Oso Wilangun. “Dengan kehadiran bus ini diharapkan dapat menghidupkan kembali keberadaan Tambak Oso Wilangun,” tuturnya.
Alternatif rute lainnya, bus berangkat dari Porong kemudian masuk tol Sidoarjo hingga tol waru. Kemudian, dari tol waru, bus masuk ke Jl Ahmad Yani menuju terminal Joyoboyo. Setelah itu, dari Joyoboyo menuju ke Perak. “Karena ini program angkutan massal yang diharapkan bisa dinikmati masyarakat. Mudah-mudahan, kehadiran bus ber AC ini bisa mengurangi penggunaan angkutan pribadi (roda dua maupun roda empat) agar beralih ke angkutan massal,” urainya.
Dengan beralihnya ke angkutan massal itu, kata Wahid, tentunya akan dapat mengurangi kejadian kecelakaan di jalan, dalam hal ini pengguna roda dua. Sebab, selama ini kecelakaan di jalan didominasi oleh pengguna roda dua.
Oleh karena itu dalam program ini berjalan sukses, perlu dukungan semua pihak, baik dari pemerintah kabupaten/kota yang dilewati oleh rencana pengembangan angkutan massal bus ini. “Angkutan massal yang paling memungkinkan direalisasikan dalam jangka pendek adalah bus,” terangnya.
Untuk tarifnya, Wahid belum bisa menjawabnya secara pasti. “Belum, rencana angkutan bus ini akan dikelola oleh Damri sehingga yang menentukan adalah pihak Damri. Untuk shelternya, akan dikoordinasikan dengan pemerintah Kabupaten/Kota setempat,” jelasnya. (rif)
