KORAN NUSANTARA
ekbis Hallo Nusantara Headline Nasional

Kementerian Kebudayaan Tetapkan Kawasan Gua Liangkabori di Muna Sebagai Cagar Budaya Nasional

MUNA, mediakorannusantara.com – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan kawasan prasejarah Gua Liangkabori dan Liang Metanduno di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, sebagai Situs Cagar Budaya Peringkat Nasional.

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon saat dihubungi di Muna pada Minggu, 12 Juli 2026 mengatakan bahwa seluruh tahapan sidang penetapan status oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional telah rampung dilaksanakan pada pekan lalu.

“Penetapan status sidangnya sudah selesai minggu lalu. Nah, tinggal diumumkan, insya Allah awal Agustus ya sebagai cagar budaya nasional,” kata Fadli Zon.

Dia menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkabori, para pemangku adat, peneliti, komunitas budaya, serta seluruh masyarakat yang secara lintas generasi merawat kawasan cadas tersebut, hingga melaksanakan Festival Liangkabori ke-4 tahun 2026.

Melalui festival dan penetapan status ini, Fadli menilai Indonesia kembali membuka babak krusial dalam sejarah umat manusia, mengingat situs tersebut menyimpan salah satu bukti peradaban tertua di dunia.

Fadli Zon mengungkapkan bahwa situs Liang Metanduno menjadi sorotan arkeologi global setelah publikasi hasil riset lintas perguruan tinggi dalam dan luar negeri bersama Griffith University, Australia, serta Balai Pelestarian Kebudayaan pada 22 Januari 2026.

“Hasil riset tersebut secara resmi dicatatkan dalam Guinness Book of Records 2026 sebagai lukisan gua non-figuratif tertua di dunia (the world’s oldest non-figurative cave painting),” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pengujian saintifik menggunakan metode laser ablation uranium-series membuktikan bahwa bidang pigmen visual purba berukuran 14 cm kali 10 cm di gua tersebut memiliki usia setidaknya 67.800 tahun.

Temuan ini sekaligus memecahkan rekor dunia sebelumnya yang berada di Leang Karampuang, Maros Pangkep, Sulawesi Selatan yang berusia 51.200 tahun.

Selain itu, temuan di Muna ini tercatat 1.100 tahun lebih tua dari batas minimum cap tangan purba di Maltravieso, Spanyol yang dikaitkan dengan Neanderthal, serta jauh melampaui usia lukisan dinding gua legendaris di Prancis, seperti Gua Chauvet berumur 30.000 sampai 32.000 tahun dan Lascaux berumur 17.000 tahun.

Fadli menilai bukti arkeologis modern Homo Sapiens di Muna yang memiliki bentang sejarah melewati 2.700 generasi ini sangat berpotensi menantang balik dominasi teori migrasi tunggal Out of Africa.

“Selama ini ilmu pengetahuan pun ada satu pengaruh dari kolonialisme, mereka selalu melihat kita ini relatif lebih muda dan pusatnya ada di Eropa sana. Dengan bukti arkeologis yang sangat kuat ini, kita harus berani menantang teori-teori lama itu. Narasi migrasi manusia bisa saja berbentuk dua arah atau multiple traffic, termasuk adanya potensi Out of Nusantara atau Out of Sulawesi,” sebutnya.

Guna mengoptimalkan perlindungan terhadap ancaman degradasi fisik akibat perubahan iklim, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia berkomitmen membangun Pusat Informasi Lukisan Purba di Kepulauan Muna melalui kantor kementerian di Sulawesi Tenggara.

Selain itu, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia juga menginstruksikan pendokumentasian seluruh lukisan cadas prasejarah di wilayah Muna, Maros Pangkep, Kalimantan, hingga Raja Ampat ke dalam sebuah buku komprehensif, serta menghadirkan replika visual berskala tinggi di Museum Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai etalase edukasi publik.(wa/an)

Related posts

DPP Partai Demokrat Pecat Anggelina Sondakh

kornus

Sigap Selesaikan Konflik Warga Jember-Banyuwangi, Gubernur Khofifah Siapkan Solusi Permanen Strategis

kornus

KPK cegah Empat orang ke luar negeri terkait penyidikan Korupsi LPEI