
Jakarta, mediakorannusantara.com-Badan Gizi Nasional (BGN) menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendahului pemberian gizi bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) sebelum menyasar peserta didik di sekolah.
Langkah ini diambil guna menyamakan persepsi di lapangan, mengingat masih adanya mitra pembangunan yang langsung berfokus pada kerja sama sekolah saat unit dapur SPPG baru saja didirikan.
Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya,Sabtu menekankan pentingnya skala prioritas ini agar tidak terjadi kesalahan pemahaman. “Harus saya tekankan di sini karena ada perbedaan pemahaman. Pada saat SPPG baru dibangun, bahkan ada mitra yang aktif langsung membuat kerja sama dengan sekolah. Seharusnya, ketika dapur baru dibangun oleh mitra, yang pertama dicari adalah kelompok rentan ini (balita, ibu hamil, dan ibu menyusui). Ini yang diutamakan,” ujar Sony dalam keterangan resminya.
Sony juga menjelaskan bahwa program ini merupakan terobosan besar bagi Indonesia. “Indonesia bukan sekadar school meal, tetapi school meal plus karena memikirkan yang 3B,” katanya. Menurutnya, inovasi mengantarkan makanan bergizi ke rumah melalui dukungan kader posyandu sangat krusial untuk menjaga 1.000 hari pertama kehidupan demi investasi jangka panjang Indonesia Emas 2045.
Selain aspek fisik, program ini diklaim mulai mengubah pola pikir masyarakat di seluruh pelosok negeri. “Pola pikir masyarakat Indonesia berubah, yang tadinya tidak memperhatikan apa saja unsurnya, sekarang anak-anak sudah mulai melihat, dari Aceh sampai Papua, dari desa sampai metropolitan, bahwa makan itu isinya empat unsur: karbohidrat, protein, serat, dan vitamin,” pungkas Sony.( wa/at)
