Jakarta, mediakorannusantara.com-Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menginstruksikan peningkatan kewaspadaan di seluruh pintu masuk negara, mulai dari bandara, pelabuhan, hingga Pos Lintas Batas Negara (PLBN).
Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap laporan kemunculan kembali Virus Nipah di India guna memastikan Indonesia tetap terlindungi dari potensi penyebaran penyakit zoonotik tersebut.
Kebijakan ini diperkuat melalui penerbitan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 yang menginstruksikan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bidang Kekarantinaan Kesehatan untuk bersiap siaga. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes,
Murti Utami, menjelaskan bahwa deteksi dini di pintu masuk internasional merupakan kunci utama dalam strategi pencegahan ini, yang mencakup penguatan surveilans serta pengendalian faktor risiko secara terpadu.
Dalam praktiknya, pengawasan dilakukan secara ketat terhadap setiap alat angkut, penumpang, dan barang yang datang dari luar negeri, terutama dari negara-negara yang telah melaporkan kasus.
Petugas di lapangan memanfaatkan sistem All Indonesia – SATUSEHAT Health Pass (SSHP) untuk memeriksa deklarasi kesehatan pelaku perjalanan, serta menyiagakan alat pemindai suhu tubuh (thermal scanner) di area kedatangan guna memantau gejala klinis penumpang secara langsung.
Jika ditemukan pelaku perjalanan dengan gejala seperti demam, penurunan kesadaran, kejang, atau gangguan pernapasan, petugas akan segera melakukan observasi lanjutan.
Kasus yang dikategorikan sebagai suspek atau probable akan langsung dirujuk ke rumah sakit yang telah ditetapkan, sementara data temuannya dilaporkan secara berkala melalui sistem informasi kekarantinaan kesehatan yang terintegrasi.
Selain pengawasan manusia, Kemenkes juga berkoordinasi dengan instansi karantina hewan dan tumbuhan untuk mengidentifikasi risiko kesehatan yang mungkin dibawa melalui komoditas tertentu.
Mengingat Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, berkisar antara 40 hingga 75 persen, pemerintah juga memastikan ketersediaan logistik serta sarana deteksi dini di setiap titik perbatasan.
Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus pada manusia di Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, mengingat Indonesia memiliki reservoir alami virus ini pada kelelawar buah.( wa/ar)
