
Jakarta, mediakorannusantara.com-Pengelola Investasi (BPI) Danantara secara resmi mendorong percepatan reaktivasi tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto, Sumatera Barat, sebagai proyek strategis yang diproyeksikan memberikan dampak ekonomi signifikan.
Menanggapi arahan tersebut, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengonfirmasi bahwa rencana pembukaan kembali tambang saat ini tengah berada dalam tahap pengurusan dokumen krusial, mulai dari perizinan hingga studi kelayakan. Direktur Operasional PTBA, Ilham Yacob, menjelaskan bahwa aspek legalitas dan lingkungan merupakan fondasi utama sebelum aktivitas fisik dimulai. “Benar ada rencana kita mau aktifkan kembali tambang di Ombilin, saat ini sedang proses perizinan dan Amdal serta feasibility study (FS). Dokumen ini sangat penting, tanpa itu aktivitas tidak bisa dilakukan. Jika sudah dibuka, ekosistemnya akan terbentuk dan punya dampak ekonomi yang bagus,” ungkap Ilham.
Senada dengan hal tersebut, Corporate Secretary PTBA, Eko Prayitno, menambahkan bahwa operasional penambangan baru akan dimulai setelah seluruh persetujuan pemerintah dan dokumen teknis, termasuk analisis biaya dan kesiapan tenaga kerja, rampung secara menyeluruh. Eko memaparkan bahwa jika tambang kembali beroperasi, baik melalui metode tambang terbuka maupun tambang dalam, maka potensi penyerapan tenaga kerja diperkirakan mencapai sekitar seribu orang. Adapun potensi cadangan di Ombilin sendiri diperkirakan mencapai 2 juta ton untuk tambang terbuka dan sekitar 100 juta ton untuk metode tambang dalam.
Upaya reaktivasi ini menjadi angin segar bagi masa depan Sawahlunto, mengingat tambang Ombilin merupakan salah satu tambang tertua di Indonesia yang aktivitasnya telah menurun tajam selama 25 tahun terakhir.
Secara historis, tambang ini pertama kali dibuka oleh pemerintah Hindia Belanda pada 28 Desember 1891 setelah cadangannya ditemukan oleh Willem Hendrik de Greve pada 1867–1868. Meski rencana pembukaan kembali sempat beberapa kali terkendala di masa lalu, langkah konkret Danantara pada tahun 2026 ini diharapkan menjadi titik balik bagi industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera Barat.( wa/at)
