Surabaya (MediaKoranNusantara.com) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim kembali memberikan memberikan santunan kepada para pelaku seni dan juru pelihara cagar budaya di Jawa Timur. Santunan untuk 1.000 seniman dan 240 juru pelihara cagar budaya tersebut diserahkan langsung oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, di Gedung Negara Grahadi, Jumat (23/4/2021).
Santunan itu diberikan sebagai wujud dukungan dan perhatian Pempronv Jatim kepada para pelaku seni dan juru pelihara cagar budaya di Jawa Timur. Penerima santunan tersebut jauh lebih banyak dari tahun 2020, di mana waktu itu hanya ada 750 seniman dan 240 juru pelihara cagar budaya.
Bentuk santunan yang diberikan kepada para seniman dan juru pelihara cagar budaya tersebut itu berupa tambahan gaji dan satu paket sembako. Masing-masing seniman mendapat uang tunai Rp 500.000 dan juru pelihara cagar budaya masing-masing Rp 1 juta.
Secara khusus, Gubernur Jatim Khofifah menyampaikan terima kasih atas pengabdian para seniman dan juru pelihara cagar budaya. Menurut Khofifah, peran mereka menjadi kunci terpeliharanya serta bertahannya cagar budaya dan kesenian Jatim.
“Saat ini, ekonomi kreatif terus didorong dan diharapkan menjadi ujung tombak. Kreatifitas itulah yang dilakukan para seniman,” jelas Khofifah.
Tidak hanya itu, selama masa pandemi yang berdampak penurunan terhadap pertunjukan kesenian, ia berharap santunan itu bisa membantu seniman dan pemelihara cagar budaya
“Ada yang kegiatannya berhenti bahkan perekonomiannya berhenti. Karenanya, kita harus sama-sama memahami. Kalau tidak begitu, akan terasa sangat berat,” jelasnya.
Pada kesempatan sama, Gubernur Khofifah mengatakan,pandemi Covid-19 telah menghantam segala sendi kehidupan baik ekonomi hingga usaha kecil dan menengah (UKM) hingga para seniman. Kondisi ini juga dirasakan 220 negara baik di Eropa maupun Asia.
Sementara di Jatim sendiri situasinya relatif melandai. Maka pembukaan wisata bisa mulai dilakukan bertahap dan diikuti pagelaran serta pertunjukan kesenian dengan menjaga jarak antar penonton. Kebijakan tersebut diminta untuk menyesuaikan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
“Itu akan bisa memberikan ruang, bagaimana agar dunia kesenian dan budaya bisa menjadi peneduh dari segala proses yang ada. Bagaimana keringnya dunia kita tanpa kesenian. Karena kesenian bisa meneduhkan pikiran dan jiwa agar tidak melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan,” imbuh Khofifah.
Sementara itu, Edi Karya yang merupakan seniman ludruk senior asal Mojokerto berharap, apresiasi pemerintah provinsi kepada seniman ini tidak terputus, dan tetap menjadi agenda rutin. Harapan itu juga merupakan pesan seniman lainnya.
“Nek iso acara ngene ojok sampek pedot, (kalau bisa acara seperti ini jangan sampai putus) setiap tahun ada. Teman teman seniman mengucapkan matur suwon (terima kasih),” katanya.
Edi mengaku, bahwa selama setahun lebih ini para seniman dalam kondisi tiarap, khususnya adalah seniman tradisi. Ia mencontohkan, Wayangan, Campursari, mauoun Ketoprak dan Ludrukan.
“Nah ini suara suara seniman macam macam. Ada yang sangat sabar menanti dan menyadari, pandemi ini penanganan tidak bohong. Ada seniman yang agak reaktif, ada yang sangat reaktif untuk memprotes ini. Kami mohon maaf,” kiata Edy Karya. (KN01)
Foto : Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa saat menyerahkan santunan kepada para seniman dan juru pelihara cagar budaya di Gedung Negara Grahadi, Jumat (23/4/2021) sore.
